Merajut Perdamaian di Semenanjung Korea dalam Perspektif Media
Perang dingin telah berakhir. Tapi kebekuan perang ideologi antara AS dan Uni Soviet itu masih tampak jelas di dalam tubuh bangsa Korea yang sampai saat ini masih terpecah. Akankah semenanjung Korea akan terus menjadi monumen internasional perang dingin?
Memasuki abad 21 harusnya dua negara yang memiliki rumpun sama, bahasa sama dan keluarga yang sama harusnya sudah menjadi satu. Faktanya perdamaian Korea hanya menjadi tarik ulur dan komoditas politik para politisi dunia.
Sementara lima tahun belakangan ini tata kelola dunia menuju ketidakpastian. Dimulai dari perang dagang ekonomi antara AS dan Tiongkok, lalu soal sengketa perbatasan hingga masalah pandemi Covid-19.
Profesor Hyman Minsky menulis, ”Stabilizing An Unstable Economy”. Pemikiran Minsky relevan karena arus pemikiran utama yang berlaku hingga detik ini selalu menganggap bahwa sifat ketidakstabilan sektor finansial bersumber dari faktor-faktor di luar sektor tersebut. Padahal sesungguhnya ketidakstabilan sektor keuangan disebabkan oleh perilaku dasar para pemain di pasar yang spekulatif.
Problem makin pelik dipicu oleh ketidakstabilan pemimpin dunia. Sehingga tarik ulur perdamaian makin panjang. Upaya perdamaian di daerah konflik menjadi barang mewah yang berlarut tanpa ada penyelesaian. Hal ini tercermin pada kasus perdamaian di Semenanjung Korea.
Gagasan perdamaian dimulai dari pertemuan Presiden Donald Trump dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Singapura tanggal 12 Juni 2018. Lalu dilanjutkan pada Konfrensi Tingkat Tinggi tanggal 27 Pebuari 2019. Meski sudah dua kali melakukan pertemuan tingkat tinggi namun belum ada hasil yang signifikan terhadap perdamaian di Semenanjung Korea. Menilik dari peristiwa tersebut saatnya media berperan lebih besar.

Peran Media di Daerah Konflik
Dalam perkembangan budaya sebuah negara peran media sangat penting. Media merupakan agen perubahan untuk ikut dalam menyelesaikan permasalahan dunia. Termasuk menciptakan perdamaian dan mengurangi kemiskinan. Media dapat memberikan kontribusi terhadap peradaban dunia, apalagi dengan perkembangan teknologi informasi. Media memegang peranan kunci. Terciptanya perdamaian dunia merupakan tugas dari media.
Peran strategis media dalam perdamaian tentu tidak berjalan lurus karena mengalami tantangan internal. Era digital membuat persaingan antar media sangat ketat. Tidak heran muncul tren kompetisi tidak sehat antar media. Sehingga lahir media boombastis, penuh spekulatif dan profokatif menyebar di tengah masyarakat. Media seperti ini selain tidak memberikan gizi pengetahuan buat masyarakat juga cenderung memanaskan suasana.
Saatnya media harus objektif, mengetengahkan fakta dan melakukan check and recheck agar wajah damai pemberitaan selalu tersedia buat masyarakat. Pemberitaan media selalu bertanggungjawab terutama media di daerah konflik.
Dalam kenyataan kita temui dalam keseharian isu-isu provokatif, berita-berita palsu (hoax), dan pelbagai konten negatif beterbaran dikonsumsi publik, sehingga kerap menciptakan pertikaian, bahkan konflik yang meluas di masyarakat. Kemunculan media-media provokatif dengan misi dari kelompok-kelompok tertentu, menebarkan sensasi dengan judul-judul boombastis untuk sekadar menarik perhatian pembaca dan mendulang keuntungan. Akibatnya, masyarakat terseret dalam aliran cara pandang tak sehat, menuju kubangan gelap yang panas, penuh prasangka dan kebencian pada sesama, dan tak jarang berlanjut pada pertikaian, bahkan kekerasan dan perpecahan.
Melihat persoalan tersebut, maka pendekatan jurnalisme damai menjadi sangat relevan dipraktikkan. John Galtung merumuskan jurnalisme damai, bertujuan menghindari atau mencegah terjadinya kekerasan di masyarakat. Pendekatan ini berprinsip membingkai laporan suatu kejadian lebih luas, lebih berimbang, dan lebih akurat dengan didasarkan pada informasi tentang konflik dan perubahan yang terjadi dengan mengarahkan penyampaian informasi yang berdampak pada perdamaian.

Prakarsa Damai
Bangsa Korea terbelah menjadi dua negara sejak 67 tahun lalu. Saat perang saudara Korea diakhiri oleh kesepakatan gencatan senjata tanggal 27 Juli 1953. Selama proses gencatan senjata hingga prakarsa perdamaian selalu dilakukan dari pemerintah dan politisi, serta melibatkan negara besar seperti Amerika, Cina dan Jepang. Prakarsa damai mungkin perlu dicoba dari kebutuhan masyarakat.
Jalan damai pertama, upaya reunifikasi perlu dihidupkan kembali. Caranya adalah mempertemukan keluarga yang terpisah tanpa muatan politik tapi memiliki bobot kemanusiaan dan kekeluargaan. Pada dasarnya satu Korea merupakan rumah bersama buat bangsa Korea.
Pertemuan reunifikasi bisa melalui Chuseok Day. Upaya reunifikasi ini perlu digelar dan menjadi kesadaran nasional dan pada akhirnya digelar dengan membentuk people to people forum seperti konfrensi tingkat tinggi perdamaian dari masyarakat Korea.
Usaha lain menuju perdamaian di Korea adalah dengan melakukan aksi kebudayaan. Bangsa Korea memiliki akar kebudayaan yang sama. Sangat mudah melakukan dialog kebudayaan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Mulai dari pertukaran budaya klasik bisa kerjasama membuat produksi film klasik bersama antar sineas Korea Selatan dan Korea Utara. Juga bisa melakukan pertukaran budaya pop seperti konser Blackpink di ibukota Korea Utara Pyongyang. Atau konser Boy Band seperti Bangtan Sonyeondan atau lebih populer BTS. Bisa dibayangkan jika Blackpink atau BTS konser di Pyongyang, kemungkinan perdamaian lebih cepat terealisasi dibanding Konfrensi Tingkat Tinggi para politisi.
Jalan damai ketiga, ditempuh dengan kerjasama bidang olahraga. Seperti kita ketahui Ketua Kim Yong Un sangat suka dengan olahraga basket. Tidak ada salahnya perlu pertukaran kunjungan tim basket Korea Selatan ke tim Korea Utara. Bidang sepakbola, kedua negara memiliki pemain bintang yang berlaga di kompetisi Eropa dan negara lain. Jika perdamaian antara Tiongkok dan Amerika melalui olahraga pinpong, kenapa tidak dicoba perdamaian antara Korea Utara dan Korea Selatan melalui jalan diplomasi olahraga. Abad 21 adalah abad reunifiksi, maka mari kita dorong supaya kedua negara dapat memecahkan kebekuan diplomasi konservatif, dengan mencari cara-cara diplomasi out of the box yang berdasar pada kepentingan kemanusian dan keinginan kuat untuk menjadikan Korea bersatu. Saya percaya fajar Korea bersatu akan datang dengan didorong oleh jurnalisme damai.
(Ed/Ag)
Keterangan Foto Headline: Lee Geum-seom , 92, warga Korea Selatan, memeluk erat anak laki-laki yang telah terpisah darinya selama 60 tahun lebih, Ri Sang-chol, 71, yang tinggal di Korea utara. Foto: O Jongchan/ The New York Times

Leave a Reply