Di Tengah Pandemi, Pendapatan Nongshim dan Indomie Justru Meningkat

Produsen besar mie instan Korea Selatan Nongshim Co. melaporkan kinerjanya yang meningkat di tengah pandemi Covid-19. Hal serupa dialami Indofood, pemain utama mie instan tanah air.

Banyak industri rontok diterpa badai pandemi. Tetapi bisnis makanan siap saji justru mencatatkan peningkatan yang tidak biasa. Bahkan bisnis ini mampu menciptakan celah-celah untuk memperluas pangsa ekspor selama masa karantina sampai era new normal seperti saat ini. 

Yonhap memberi catatan pada Rabu, 4 November 2020, Nongshim memperkirakan penjualan mie instan di luar negeri, atau “ramyeon” dalam bahasa Korea, mencapai US $ 990 juta tahun ini. Dengan demikian, angka ini membuat penjualan mereka naik 24 persen dari tahun sebelumnya.

Perwakilan Nongshim yang berdiri 18 September 1965 itu, mengatakan bahwa nilai ekspor naik tajam karena peningkatan konsumsi ramyeon akibat pandemi. Dua pabrik utama di luar negeri mereka, yakni di Tiongkok dan Amerika Serikat, membukukan pertumbuhan dua digit.

Penggerak utama dari penjualan Nongshim untuk pasar luar negeri adalah dua produk andalan mereka. Pertama yang disebut dengan Shin Ramyun dan satu lagi Chapaguri. Keduanya begitu populer setelah muncul dalam adegan film pemenang Oscar “Parasite.” Shin Ramyun adalah mie instan khas Korea dengan rasa pedas. Sedangkan Chapaguri adalah campuran Chapaghetti, mie kacang hitam instan, dan Neoguri, mie pedas seperti udon Korea.

Nongshim memperkirakan penjualannya di AS dan Kanada mencapai US $ 326 juta tahun ini, naik 28 persen dari tahun sebelumnya. Secara khusus, penjualan Shin Ramyun diproyeksikan mencapai US $ 120 juta di Amerika saja. Perusahaan lebih lanjut memperkirakan penjualannya di Eropa akan melonjak 30 persen menjadi US $ 390 juta pada tahun 2020.

Capain yang menjanjikan di tahun 2020 ini, membuat Nongshim menargetkan penjualan di luar negeri mencapai US $ 1,11 miliar untuk tahun depan, atau naik 12 persen dari tahun ini. Hal ini tentunya akan mengokohkan perannya sebagai produsen mie intan global. Menurut data yang dirilis oleh peneliti pasar Euromonitor yang berbasis di London akhir Oktober 2020 lalu, Nongshim adalah produsen mie instan terbesar kelima di dunia.

Sementara itu, perusahaan produsen mi instan Samyang Foods, juga dari Korea, diprediksi mencatatkan laba sebesar 27 miliar won pada kuartal II 2020. Angka ini naik 29,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini juga dipicu oleh pembatasan sosial dan karantina yang diberlakukan selama pandemi. 

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Masuk Zona Merah

Capian Indomie di Tengah Pandemi

Fenomena serupa terjadi di tanah air. Indofood sebagai produsen mie instan dengan merk Indomie juga mencatatkan pendapatan fantastis di tengah pandemi. Pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama pandemi, membuat permintaan akan makanan cepat saji meningkat. Dengan demikian, harga mi instan masih akan stabil di mana persediaan barangnya pun selalu ada karena terus diproduksi oleh industri.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2020 yang dikutip katadata.co.id, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mencatatkan pertumbuhan laba bersih 31,2 persen secara tahunan menjadi Rp3,38 triliun. Adapun, pertumbuhan laba bersih disebabkan oleh kenaikan penjualan 4,14 persen secara tahunan menjadi Rp23,05 triliun.

Induk perseroan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) juga mencatatkan kenaikan laba bersih 11,68 persen secara tahunan menjadi Rp2,84 triliun. Sementara, penjualannya juga ikut meningkat tipis 2,01 persen menjadi Rp39,38 triliun.

Hingga semester I 2020, Indofood CBP membukukan penjualan Rp 23 triliun, tumbuh 4,1% dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 22,1 triliun. Sedangkan laba bersih perseroan tumbuh 31% menjadi Rp 3,3 trilun dibanding periode yang sama sebelumnya Rp 2,5 triliun. 

Yang menarik, di tengah pandemi, Indofood justru masih merencanakan ekspansi ke luar negeri, baik pabrik maupun untuk pasar. Menurut Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), Thomas Tjie, ekspansi nantinya akan dieksekusi oleh Pinehill Company Limited, yang baru diakuisisi perusahaan pada Agustus 2020.  “Dengan akuisisi Pinehill yang beroperasi di luar Indonesia, pengembangan ke depan bakal dilakukan melalui  perusahaan tersebut. Mengenai negara mana, nanti akan diberitahukan lebih lanjut,” katanya.

Salah satu merek yang dimiliki PT Indofood adalah Indomie yang telah sukses dipasarkan di 90 negara di antaranya Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Kanada, serta negara-negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Timur Tengah.

Popularitas Indomie di dunia internasional semakin terbukti dari hasil pemeringkatan Los Angeles Times terhadap mie terbaik dunia. Dari 10 besar mie instan terenak, produk Indomie menjadi terbaik pertama (Indomie BBQ Chicken) dan sepuluh (Indomie Mi Goreng Original). Yang menarik, salah satu prodik Nongshim, yakni Nongshim Shin menjadi terbaik ketiga.

Capaian Indofood dan produsen sejenis di tanah air ini, menurut Menteri Perdagangan Agus Suparmanto turut membantu neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar US$ 2,2 miliar pada periode Januari-April 2020. Produk makanan olahan Indonesia, pada periode tersebut berhasil mencatatkan nilai ekspor sebesar US$ 1,32 miliar atau meningkat 7,9 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Adapun negara tujuan utama ekspor produk makanan olahan Indonesia pada periode Januari–April 2020 yaitu Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 293,6 juta (22,11 persen), Filipina US$ 161,4 juta (12,15 persen), Malaysia US$ 101,6 juta (7,65 persen), Singapura US$ 74,9 juta (5,64 persem), dan Jepang US$ 71,9 juta (5,41 persen)

“Ekspor makanan olahan sangat berpotensi meningkat di masa pandemi, mengingat makanan olahan menjadi salah satu kebutuhan utama selama karantina akibat pandemi dan juga saat memasuki era normal baru,” ujar Agus Suparmanto dalam keterangan resminya, Minggu, 14 Juni 2020.  

(Ag/Ag)

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *