Industri Baterai Indonesia di Antara CATL, LG, dan Tesla
Setidaknya ada 3 pemain global industri baterai yang telah menyatakan minatnya secara serius menjadi mitra Indonesia. Perkembanganya disampaikan oleh Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik.
“Awalnya kami dapatkan di dunia ada 11 perusahaan yang bergerak di bidang battery cell dan kemudian kami screening dapat tujuh. Tujuh perusahaan kami hubungi satu-satu. Nah, seperti Farasis, misalnya, tidak memperlihatkan keinginan kerja sama, mungkin bisnisnya sudah penuh di tempat lain, dan lain-lain. Yang sedang aktif negosiasi yang saya sebutkan tadi,” ujar Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahajana Wirakusumah BUMN Media Talk, Selasa, 2 Februari 2021.
Ketujuh perusahaan tersebut, sebagaimana dikutip dari Bisnis.com, ada yang dari Tiongkok: Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), BYD Auto Co.Ltd, dan Farasis Energy, Inc.. Ada dua dari Korea Selatan, yakni LG Chem Ltd. dan Samsung SDI. Dua lagi, Tesla Inc asal Amerika Serikat dan Panasonic dari Jepang.
Mereka telah berproses untuk menjalin kerja sama menjadi calon mitra konsorsium BUMN, Indonesia Battery Holding atau Indonesia Battery Corporation. Melalui konsorsium ini, Indonesia tengah membangun mimpi untuk mewujudkan proyek industri baterai kendaraan listrik secara terintegarsi dari hulu hingga hilir.
Baca Juga: Pejabat Pemerintah Indonesia Kesemsem dengan Mobil Listrik Hyundai
Dalam penjajakan ada tiga kriteria yang dipakai. Pertama, memiliki jejak global di dalam industri baterai kendaraan listrik dan memiliki rencana untuk ekspansi bisnis. Kedua, memiliki kekuatan finansial dan investasi di bidang baterai. Dan ketiga, mempunyai reputasi merek dan hubungan dengan original equipment manufacturer (OEM).
Menurut Agus, pihaknya kini tengah bernegosiasi dengan ketiga calon mitra. Mereka adalah CATL, LG Chem, dan Tesla. Sejauh ini mereka telah punya langkah serius untuk bermitra dengan Indonesia melalui Indonesia Battery Holding. Harapannya, kemitraan ini dapat menyumbang perekonomian Indonesia mencapai sekitar US$ 25 miliar atau sekitar Rp 400 triliun pada 2027 mendatang.
Sebagaimana diketahui, CATL telah menandatangani nota kesepahaman dan kesepakatan awal dengan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk., yang akan menjadi salah satu pemilik saham di Indonesia Battery Holding.
LG Chem melalui anak usahanya, LG Energy Solution, juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Indonesia untuk pembangunan pabrik baterai pada 18 Desember 2020 dengan total investasi mencapai US$9,8 miliar atau setara Rp142 triliun.
Dari catatan CNBC Indonesia, pemerintah masing bernegoisasi dengan CATL dan LG Chem. LG ingin memastikan bahwa bahan baku komponen baterai tersedia hingga puluhan tahun selama bisnis ini berjalan, sehingga menjamin keberlangsungan bisnis ini ke depannya.
Baca Juga: Pasca Omnibus Law, Indonesia Bersiap Jadi Produsen EV Battery
“Syarat-syarat yang diminta LG antara lain mereka ingin bahan bakunya terjamin. Ini sesuatu yang wajar karena takutnya dalam 10 tahun, 20 tahun akan habis bahan bakunya. Makanya, dia mau bahan bakunya tersedia untuk menjamin kelangsungan bisnis. Mereka ingin minta kepastian ketersediaan bahan baku,” jelas Agus.
Dengan Tesla, imbuhnya, karena baru menyatakan minatnya baru-baru ini, pihaknya masih mempelajari apa yang diinginkan pihak Tesla. Namun menurutnya kemungkinan besar Tesla berminat untuk sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ ESS).
“Dengan Tesla, kita juga sedang dalam tahap negosiasi. Tesla baru belakangan masuk (menyatakan minat). Kita lagi pelajari dia mau masuknya ke mana. Dari pembicaraan kemarin, mereka sepertinya mau masuk ke ESS,” papar Agus.
Indonesia memiliki cadangan mineral yang cukup melimpah untuk material penting baterai EV, seperti nikel, alumunium, tembaga, mangan dan kobalt. Menurut data Kementerian BUMN, Indonesia memiliki cadangan nikel hingga 21 juta ton, cadangan tembaga 51 juta ton, alumunium 1,2 miliar ton, dan mangan sebesar 43 juta ton.
Foto: Waldemar Brandt – unsplash.com
(Ag/Ag)

Leave a Reply