Lukisan ‘Pembantaian di Korea’ Picasso akan Dipamerkan Kali Pertama di Korsel
Lukisan Pablo Picasso yang menggambarkan Perang Korea 1950-1953 akan dipamerkan kali pertama di Korea Selatan.
Karya seniman Spanyol yang hidup 1881-1973 itu memberikan judul pada lukisannya ‘Massacre in Korea’ atau ‘Pembantaian di Korea.’ Merupakan salah satu dari serangkaian lukisannya yang menggambarkan sikapnya yang anti peperangan.
Dikutip dari Yonhap, ‘Massacre in Korea’ akan dipamerkan di Museum Pusat Seni Hangaram di dalam Pusat Seni Seoul di selatan Seoul, dari 1 Mei hingga 29 Agustus 2021.
Lukisan itu menggambarkan sekelompok wanita telanjang dan anak-anak yang diancam dengan todongan senjata oleh regu tembak. Tampak sekali bagaimana melalui karya seni, Picasso menyiratkan pesan menentang peperang dan kekerasan.
Baca Juga: Minari, Film Berbahasa Korea Sabet Penghargaan Golden Globe 2021
Lukisan itu akan menjadi salah satu dari 110 karya seni yang akan dipamerkan selama pameran bertajuk “Into the Myth”. Karya seni tersebut berasal dari Musée Picasso yang berbasis di Paris, Perancis.
Picasso lahir 25 Oktober 1881 di Malaga, Spanyol dari orang tua Jose Ruiz Blasco dan Maria Picasso Lopez. Bakat melukis turun dari ayahnya yang merupakan seorang pelukis dan guru seni. Nama lengkap Picasso sangat panjang, yakni Pablo Diego Jose Francisco de Paula Juan Nepomuceno Maria de los Remedios Cipriano de la Santisima Trinidad Martyr Patricio Clito Ruiz y Picasso.
Picasso meletakkan dasar seni modern melalui gaya kubismenya. Teknik utama karya kubisme adalah memecah dan menyusun kembali objek dalam bentuk abstrak dengan geometris gabungan, menggabungkan sudut pandang untuk menciptakan efek seperti kolase.
Meski masih remaja, Picasso merantau ke Paris. Yang kala itu menjadi pusat kesenian. Di sana ia membuka studio seni di Montmarte, Paris di periode 1901-1904. Corak lukisannya didominasi oleh nuansa suram dengan warna biru dan biru-hijau, serta hanya sesekali menggunakan warna lain. Subyek yang dipilih berkisar pada kemiskinan dan isolasi hingga penderitaan serta kemurungan. Berikutnya pada 1904 hingga 1906, ia tenggelam dengan warna merah muda. Kebanyakan subjek lukisannya adalah orang-orang sirkus, akrobat, dan badut.
Dunia berubah dengan pecahnya Perang Dunia I yang turut membawa perubahan pada aliran seni lukisnya. Dari bentuk abstrak dan terdistorsi, dia bergerak untuk menggambarkan realitas unia yang suram ke dalam karya-karyanya.
Baca Juga: Boneka Seks Menjadi Kontroversi Serius di Korea
Antara 1918 hingga 1927 merupakan periode klasik, di mana Picasso memilih aliran realisme dalam kariernya. Dia menjadi lebih muram dan menghasilkan karya terkenal seperti Three Women at the Spring (1921), Two Women Running on the Beach/The Race (1922) dan The Pipes of Pan (1923). Mulai 1927 dan seterusnya, Picasso berubah haluan dengan menelurkan karya terbaru beraliran sureliasme, manifestasi artistik dari kubisme.
Selama hidupnya, Picasso menjalin hubungan asmara dnegan banyak wanita. Namun, dia hanya menikah dua kali dan memiliki 4 orang anak.
Pada periode 1950-an hingga 1960-an, Picasso menuangkan karya dalam bentuk lain seperti patung keramik dan periode. Dia mengembuskan napas terakhirnya pada 8 April 1973 di Mougins, Perancis.
Foto: Gambar ini, disediakan oleh Museum Seni Vichae pada 29 Maret 2021, menunjukkan “Pembantaian di Korea” oleh Pablo Picasso, yang akan ditampilkan dalam sebuah pameran di Korea Selatan untuk pertama kalinya dari 1 Mei hingga 29 Agustus 2021. (Yonhap)
(Ag/Ag)

Leave a Reply