Saat Presiden Korsel Minta Maaf Soal Tragedi Itaewon dan Bagaimana Indonesia Belajar
Hari ini secara khusus Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol meminta maaf kepada rakyat Korea terkait tragedi Itaewon yang mematikan.
Di kesempatan tersebut, memastian bahwa penyelidikan menyeluruh atas tragedi itu akan dilakukan. Dan dia juga akan meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab.
Seperti dilansir Yonhap, 7 November 2022, Presiden mengungkapkan permintaan maafnya di tengah pertemuan untuk mengevaluasi tindakan pengendalian massa dan peraturan keselamatan lainnya setelah tragedi yang menewaskan 156 orang pada 29 Oktober 2022 itu.
Baca Juga: Public Figure di Pusaran Tragedi Halloween Itaewon
“Saya tidak berani membandingkan diri saya dengan orang tua yang kehilangan putra-putrinya, tetapi sebagai Presiden yang harus melindungi kehidupan dan keselamatan rakyat, saya berduka dan hati saya merasa berat. Saya meminta maaf atas kejadian tersebut,” kata Presiden yang juga menjadi permintaan maafnya yang pertama kepada Negara.
Presiden menjadikan peristiwa ini untuk membarui bagaimana kepolisian menangani kumpulan massa dan bersiap untuk menghadapi risikonya sehingga terhindar dari bencana. Tampak hadir dalam pertemuan tersebut ada erdana menteri, menteri keuangan, menteri dalam negeri, beberapa anggota kabinet lainnya, dan pakar sipil tentang masalah bencana dan keselamatan, polisi garis depan dan petugas pemadam kebakaran, serta pembuat kebijakan utama Partai Kekuatan Rakyat.
Negara yang Belajar
Tragedi Itaewon terjadi tidak lama setelah tragedi Kanjuruhan yang terjadi di Malang, Indonesia. Ketidakmampuan dalam menajemen massa, membuat 135 orang tewas dalam laga Arema Malang vs Persebaya Surabaya itu pada Sabtu, 1 Oktober 2022.
Negara melalui Kepolisian Republik Indonesia sepertinya mulai belajar banyak dari peristiwa Kanjuruhan dan Itaewon dengan ketegasan membubarkan atau membatalkan beberapa kegiatan yang berpotensi berakhir tragedi.
Polisi akhirnya mencabut izin Konser “Berdendang Bergoyang” di Istora Senayan, setelah dua hari berlangsung. Pada hari pertama, Jumat, 28 Oktober 2022, sebanyak 27 orang pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit akibat over kapasitas. Melihat situasi ini, polisi meminta konser hari ketiga, Minggu, 30 Oktober 2022 dihentikan.
Belakangan, polisi menetapkan dua orang tersangka berinisial HA dan DW. “Jadi sekarang ada dua orang sudah ditetapkan tersangka,” kata Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Komarudin, Sabtu, 5 November 2022.
Keduanya dianggap paling bertanggung jawab dalam kisruhnya festival musik tersebut. “HA penanggung jawab dan BW direktur,” ucap Komarudin.
Kerumunan juga terjadi saat konser NCT 127 di ICE BSD, Banten. Konser boyband asal Korea Selatan NCT 127 hari pertama yang digelar pada hari Jumat, 4 November 2022 dihentikan lebih awal karena pertimbangan keselamatan. Polisi membubarkan konser karena penonton berdesak-desakan sehingga menyebabkan beberapa penikmat Konser NCT 127 pingsan.
Konser seharusnya berlangsung pada pukul 19.00-22.00 WIB, namun harus terhenti pada pukul 21.20 WIB. Konser hari kedua tetap diizinkan berlangsung pada Sabtu, 5 November 2022 karena jumlah penonton tidak melebihi kapasitas, yakni 8.000 dari kapasitas 10.000 orang.
Kepadatan kembali ditemukan saat acara “meet & greet dengan Sehun” di Central Park, Jakarta. Acara yang berlangsung pada Minggu, 6 November 2022 membuat mall tampak sesak oleh kedatangan fans yang membludak.
“Event meet & greet dengan Sehun tetap dilaksanakan, namun waktunya dipersingkat,” kata Public Relations Central Park, Nadya, saat dikonfirmasi. Sehun yang adalah member EXO hanya muncul sebentar, kurang lebih 7 menit menyapa penggemar yang hadir.
Nadya mengatakan, keputusan tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung acara maupun pengunjung mal lainnya.
Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan Menjadi Perhatian Media Korea Selatan
Terakhir, band Dewa 19 yang berencana konser di Jakarta International Stadium (JIS) pada 13 November 2022 harus lapang dada, karena Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya enggan mengeluarkan surat rekomendasi izin.
Imbasnya, konser yang akan dijejali 70.000 penonton itu terpaksa ditunda menjadi 4 Februari 2023 mendatang. Faktor keamanan menjadi pertimbangan kepolisian meminta penundaan acara tersebut. Sebab, Polda Metro Jaya belum siap menjamin keamanan jalannya konser band ternama tersebut jika tetap digelar dalam waktu dekat, karena banyaknya jumlah penonton yang hadir.
Dosen Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, pernah menuturkan kepada Kompascom, bahwa fenomena kerumunan ini bukan tanpa sebab. “Kerumunan masyarakat yang membeludak baru-baru ini dalam berbagai bentuk kegiatan adalah fenomena dahaga massa,” ujar Ubedilah.
Menurut Ubedilah, kondisi masyarakat saat ini cenderung ingin mencari kegembiraan akibat tekanan hidup dan kehidupan sosial ekonomi yang berat.
Panggung hiburan, kata Ubedilah, menjadi salah satu kanal yang menghibur bagi masyarakat yang gelisah, terutama bagi mereka yang selama ini terkungkung akibat pandemi.
Foto: Presiden Yoon Suk-yeol memimpin pertemuan pemerintah-sipil tentang peraturan keselamatan nasional di kantor kepresidenan di Seoul pada hari Senin, 7 November 2022. (Yonhap)
(Ag/Ag)

Leave a Reply