4 Tips Menghadapi Krisis Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19

Krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 tidak terhindarkan. Tanda krisis ekonomi dimulai jebolnya tanggul keramat batas defisit APBN 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Pertumbuhan ekonomi Produk Domestik Bruto riil Indonesia di kuartal kedua 2020 diperkirakan sebesar minus 5,1% year-on-year (revisi atas pertumbuhan minus 1% year on year pada prediksi di bulan April 2020) atau minus 3,97% quarter-on-quarter.

Perkiraan pertumbuhan PDB riil di tahun 2020 juga direvisi menjadi 0,10%, turun jika dibandingkan dengan prediksi sebelumnya yaitu 1,80%. Sebagai perbandingan, pertumbuhan PDB Indonesia di kwartal I tahun 2020 masih plus 2,97% year on year sedangkan pertumbuhan kwartal 2 tahun 2019 adalah plus 5,05% year on year.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memberi isyarat, ekonomi Indonesia bakal mengalami resesi pada kuartal III 2020. “Di kuartal III 2020, ekonomi kita masih mengalami negative growth, bahkan di kuartal IV 2020 masih dalam zona sedikit di bawah netral,” ujar Sri Mulyani.

Harapan VS Kenyataan

Meski Pemerintah melakukan stimulus fiskal dan menaikan belanja negara namun terjadi
penurunan belanja negara disebabkan oleh turunnya transfer dana ke daerah.

Menurut Kementerian Keuangan, sampai dengan Mei 2020 realisasi penyaluran transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) mencapai Rp 306,60 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 40,20% dari pagu anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) di dalam Perpres 54/2020 sebesar Rp 762,7 triliun.

Realisasi ini mengalami kontraksi sebesar 5,7% apabila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019, yaitu sebesar Rp 325,1 triliun. Turunnya dana transfer diakui oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, “Alokasi dari transfer ke daerah memang kita lakukan penurunan karena memang dampak Corona membuat sisi penerimaan menurun.”

Padahal Presiden Jokowi sendiri berharap dalam kuartal III 2020 nanti, pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah tidak lagi menunjukkan angka minus, agar selanjutnya beban ekonomi tidak menjadi semakin berat.

Sebagai informasi, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2021 diperkirakan sebesar 4,20%. Namun kenyataanya pertumbuhan ekonomi tidak sesuai harapan Presiden. Pandemi menyebabkan pertumbuhan ekonomi masih minus.

Respon Terhadap Resesi

Dalam kondisi ekonomi yang menggoncang perekonomian nasional. Sebaiknya tiap rumah tangga di Indonesia mulai menyiapkan diri. Yakni dengan meminimalisir pengeluaran dan menambah pemasukan. Dalam kondisi yang serba sulit diprediksi ini perlu tips yang baik kita cermati bersama.

Berikut 4 tips yang bisa dicoba:

  1. Menyiapkan dana darurat. Terutama jika terjadi emergensi Jika anda memiliki dana tabungan sebaiknya dipersiapkan dana tunai untuk antisipasi masalah darurat.
  2. Buat rancangan keuangan secara terperinci. Ini perlu dilakukan untuk melihat secara riil, mana yang betul kebutuhan kita, mana yang hanya keinginan. Jika ada yang tidak perlu dibeli, jangan dipaksakan. Apalagi yang sifatnya konsumtif.
  3. Negoisasi cicilan. Perlu melakukan negoisasi dengan bank jika memiliki tagihan kredit, baik KPR dan kredit lainnya. Semoga ada relaksasi, minimal terkait beban tagihan bunga hutang.
  4. Jual barang bekas. Mulai cek barang di rumah yang tidak dipakai lagi untuk dijual di toko online. Misalnya baju, sepatu, tas, furniture yang tidak terpakai tetapi masih memiliki nilai jual. Barang bekas dioptimalkan menjadi sumber pendapatan tambahan.

(Ed/Ag)

Foto: Freepik

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *