SKK Migas Jelaskan Kelanjutan Proyek Gas Laut Dalam RI
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan perihal rencana pengembangan Indonesia Deepwater Development (IDD) atau proyek gas laut.
Pengembangan tersebut mengemuka selepas masuknya ENI sebagai kontraktor baru menggantikan Chevron di proyek migas laut dalam tersebut.
Baca Juga: Ini Strategi SKK Migas untuk Penuhi Target Produksi 1 Juta Barel
Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Hudi D. Suryodipuro membeberkan proyek IDD saat ini telah dibagi menjadi dua wilayah. Di antaranya yakni sisi utara (Northern Hub) Gehem-Geng North dan sisi selatan (Southern Hub) Gendalo-Gendang.
Pembagian wilayah migas ini menjadi bagian dari rencana pengembangan atau plan of development (PoD) yang diajukan oleh ENI.
“Jadi kalau yang utara ada FPU baru, sementara yang selatan akan lewat FPU Jangkrik yang eksisting. Tapi dua-dua nya akan masuk ke eastkal systems,” kata Hudi kepada CNBC Indonesia, Jumat, 30 Agustus 2024.
Lebih lanjut, Hudi mengungkapkan bahwa PoD dari Northern Hub baru saja disetujui pada tanggal 16 Agustus 2024. Adapun saat ini pihaknya bersama ENI tengah fokus untuk pelaksanaan front end engineering design (FEED).
Baca Juga: Walau Sulit, SKK Migas-KKKS Tetap Fokus Genjot Produksi Migas di 2024
“POD dari Kutai North Hub baru disetujui tanggal 16 Agustus kemarin, skrg tim sedang fokus untuk pelaksanaan FEED dan untuk mendapatkan FID di akhir tahun 2024, dan diharapkan proyek ini bisa onstream di tahun 2027,” kata Hudi.
Sebagaimana diketahui, Perusahaan minyak dan gas bumi (migas) raksasa asal Italia, ENI, bakal menggelontorkan investasi sebesar US$ 16 miliar atau sekitar Rp 250,4 triliun (asumsi kurs Rp 15.650 per US$) di RI.
Rencana investasi tersebut ditujukan untuk menggenjot pengembangan proyek milik perusahaan di sektor hulu migas.
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto membeberkan rencana investasi akan digunakan untuk mengembangkan beberapa proyek yang dimiliki ENI di Indonesia. Salah satunya, pengembangan Lapangan Jangkrik untuk menahan laju penurunan produksi migas di area lepas pantai di Kalimantan Timur itu.
“Itu kan dia punya proyek yang pertama yang ada Proyek Jangkrik sekarang untuk mempertahankan produksi eksisting itu mengurangi decline itu dengan memasang kompresor kan,” kata dia di Gedung Kementerian ESDM, dikutip Senin, 5 Februari 2024.
Baca Juga: SKK Migas: Gas Jadi Jalan Menuju Transisi Energi
Selain itu, rencana investasi tersebut juga dialokasikan untuk beberapa proyek lainnya. Misalnya, pengembangan Lapangan Maha pada Wilayah Kerja West Ganal, pengembangan Wilayah Kerja North Ganal di sumur Geng North-1, dan pengembangan proyek IDD.
“Jadi mereka menyediakan dana dan menyiapkan jangka panjangnya itu tadi. Jadi sekarang aja yang jalan 4 proyek ditambah eksplorasi dan tentu saja mereka punya keyakinan dan eksplorasi itu optimis untuk menemukan cadangan baru dan mereka bakal ada tambahan investasi lagi. Perlu diketahui juga mereka juga ikut dalam blok-blok lain,” kata Dwi.
Foto: CNBC Indonesia
(Ag/Ag)

Leave a Reply