Apa itu Gapjil, yang Menjadi Alasan Irene Red Velvet Minta Maaf

Irene, anggota K-pop terkenal Red Velvet, mengakui tuduhan bahwa dia secara verbal menyerang seorang stylist selama syuting baru-baru ini dan meminta maaf atas insiden tersebut.

“Saya dengan tulus meminta maaf karena telah menyakiti stylist dengan sikap bodoh saya serta kata-kata dan tindakan yang ceroboh,” kata Irene dalam postingan Instagram yang diunggah Kamis malam, dengan gambar persegi hitam polos.

Ia pun menyadari bahwa ada banyak orang yang membantu dia mencapai posisi seperti saat ini. Ia pun merasa menyesal telah menyakiti mereka dengan perilaku yang tidak dewasa.

“Ke depan, saya akan berpikir dan bertindak lebih hati-hati untuk mencegah hal ini terjadi kembali,” tulisya pada 23 Oktober 2020.

Menurut Yonhap, insiden ini pertama kali menyeruak ke publik ketika seorang stylist memposting di Instagram bahwa dia “diinjak-injak dan dilecehkan secara drastis” oleh seorang selebriti. Ia juga menyinggung soal kasus-kasus “gapjil” seperti yang pernah terjadi di tahun 2014 yang melibatkan pewaris Korean Air.

Stylist tersebut menyebut peristiwa yang tidak mengenakan yang diterimanya itu sebagai “20 menit seperti di neraka” yang membuatnya menangis. Namun, stylist yang telah bekerja di industri ini, tidak menunjukkan siapa yang dia maksud.

Netizen tampaknya tahu siapa yang dimaksud. Maka dalam sekejap, tagar “psycho” dan “monster” mulai menguat kepada siapa pelaku yang dimaksud. Seperti yang telah kita tahu bersama, Psycho adalah lagu andalah Red Velvet yang melakukan comeback pada 23 September 2019 dengan album bertajuk The ReVe Festival: Finale.

Psyco sendiri menceritakan seorang perempuan yang merasa dirinya psycho. Perempuan itu punya hubungan yang aneh dengan seorang pria. Mereka kerap bertengkar tetapi suatu saat bisa begitu intim.

Sedangkan Monster adalah single yang dinyanyikan oleh dua anggota Red Velvet yakni Irene dan Seulgi yang dirilis pertengahan 2020 lalu. Lagu ini bercerita tentang monster jahat yang masuk ke dalam mimpi seseorang dan menari di dalamnnya.

Atas kejadian ini, SM Entertainment, agensi band tersebut, juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa pihaknya akan berusaha untuk mencegah insiden serupa di waktu yang akan datang. Agensi juga menambahkan bahwa Irene bertemu dengan stylist tersebut pada Kamis sore 22 Oktober 2020 waktu setempat dan dengan tulus meminta maaf.

Baca Juga: Banyak Orang Korea Stres, SEVENTEEN Comeback dengan Pesan Moral Lewat Semicolon

Apa itu Gapjil?

Menurut Wikipedia, gapjil (Bahasa Korea : 갑질 ) adalah ungkapan yang mengacu pada sikap atau tindakan arogan dan otoriter dari orang-orang di Korea Selatan yang memiliki posisi lebih tinggi dari segi kuasa – ekomomi – status kepada orang yang ada di kelas bawahnya. 

Gapjil adalah neologisme yang dibuat dengan menggabungkan kata Gap (갑; 甲) —yang digunakan untuk memperkenalkan pihak pertama dalam kontrak, tetapi juga merujuk pada status superior — dan jil (- 질), sufiks yang merujuk secara negatif untuk tindakan tertentu. Ini adalah fenomena yang terkait dengan sifat hierarki masyarakat Korea dan budaya kerja, sebuah struktur yang menghasilkan superioritas sosial bagi mereka yang memiliki kekayaan atau status sosial lebih tinggi.

Jian Seo dari Hanyang University dan David Tizzard asisten profesor di Seoul Women’s University menuliskan di The Korean Times, jika Anda menghabiskan cukup waktu di Korea Selatan, akan segera terlihat bahwa sistem sosial hierarkis merasuk ke sebagian besar masyarakat. Orang-orang diberi peringkat menurut usia, gelar, dan faktor lain dan ini kemudian menentukan bahasa dan tindakan mana yang harus digunakan dalam berurusan dengan orang lain.

Anak muda Korea secara konsisten diajari tentang pentingnya pencapaian dan kemampuan sosial (dikenal dengan bahasa sehari-hari sebagai “spec-up”) yang kemudian memungkinkan mereka untuk naik ke tangga sosial. Mendaftar di universitas bergengsi menjadi langkah penting untuk menentukan status sosial. 

Hal itu dilakukan karena masyarakat di sana pada umumnya mengukur tingkat pendidikan sebagai prasyarat untuk pekerjaan dengan gaji tinggi dan diakui secara sosial. Tentu saja, hal ini menjadi hal umum di tempat lain. Tapi Korea adalah negeri yang memperlihatkan hal ini secara mencolok. 

“Kami melihat dehumanisasi, pengucilan sosial, dan perang berbasis kelas. Orang kaya dan elit memandang rendah pekerja biasa. Mereka kaya sering bertanya kepada orang di bawahnya dengan bahasa, “What are you?” daripada “Who are you?” Mereka menggunakan bahasa untuk menempatkan orang-orang yang mereka lecehkan pada anak tangga paling bawah,” tulis mereka. 

Korea telah mengenal istilah “gapjil” dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun fenomena itu sendiri bukanlah hal baru. Gapjil kerap terjadi di mana perwakilan atau anggota keluarga eksekutif perusahaan memperlakukan karyawan mereka dengan penghinaan, menggunakan bahasa yang kasar atau bahkan serangan fisik. Hal itulah yang sempat disinggung oleh stylist tadi dengan menyebutkan kejadian 2014.

Peristiwa itu terkenal dengan sebutan “Skandal Kacang.” Pada Desember 2014, Cho Hyun-ah, putri dari CEO Korean Air Cho Yang-Ho, sedang berada di pesawat Korean Airlines yang akan berangkat dari New York ke Incheon. Ia begitu marah ketika seorang pramugara bernama Park Chang-Jin memberi dirinya kacang macademia di dalam kantong, bukannya di atas piring atau mangkok.

Perempuan yang juga dipanggil Heather Cho itu meminta beberapa awak kabin berlutut dan meminta maaf, lalu meminta pesawat Korean Air yang ditumpanginya kembali ke Bandara Internasional Kennedy untuk mengganti kepala awak kabin.

Kasus ini berlanjut ke meja hijau dengan polemik yang tidak berkesudahan. Sejak saat itu, publik kerap mengaitkan gapjil dengan ungkapan “Skandal Kacang.” Namun, apa pun yang menimpa Irene ada satu keutamaan yang bisa dipelajari bersama. Permintaan maaf Irene secara terbuka patut diapresiasi. Posisinya, didukung oleh nama tenar dan harta berlimpang serta gapjil yang dianggap ‘biasa’, bisa saja Irene membungkam sang stylist. Apalagi namanya tidak pernah disebutkan sebagai pelaku. Tapi yang dilakukannya adalah mengakui dan meminta maaf. Semoga perilaku ini bisa ditiru oleh banyak tokoh publik, termasuk juga di Indonesia.  

(Ag/Ag)

Foto: Irene, a member of South Korean girl group Red Velvet, poses for a photo during a publicity event in Seoul on April 9, 2019 to promote the Contact Lens brand Coopervision. (Yonhap)

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *