Inilah Lonceng Terbesar di Korea Berusia Ribuan Tahun

Artefak sejarah sering mendorong kita untuk merenungkan sejauh mana peradaban kita. Beberapa benda yang dibuat seribu tahun lalu tidak dapat direproduksi, bahkan dengan teknologi canggih saat ini.

Lonceng Suci Raja Seongdeok di Museum Nasional Gyeongju di Gyeongju, Provinsi Gyeongsang Utara, adalah salah satu artefak tersebut. Para ahli masih belum bisa sepenuhnya memecahkan teka-teki bagaimana cara membuat lonceng tersebut. 

Baca Juga: Korea Ajukan Situs Gaya Tumuli Sebagai Warisan Dunia UNESCO

Lonceng Suci telah ditetapkan sebagai Harta Nasional Korea Selatan No. 29 pada tahun 1962. Sampai saat ini, lonceng tersebut menjadi lonceng terbesar yang masih ada di Korea, meskipun bukan yang tertua.

Lonceng Korea tertua yang diketahui adalah Lonceng Perunggu Kuil Sangwonsa, yang berasal dari tahun 725, sekitar 50 tahun sebelum Lonceng Suci Raja Seongdeok ada.

Lonceng Suci punya keunikan dari sisi teknik pengecoran. Selain itu, suara yang dihasilkannya juga luar biasa indah.   

Berdasarkan catatan sejarah, Lonceng Suci dibuat atas perintah Raja Gyeongdeok, penguasa ke-35 Silla, untuk memperingati ayahnya, Raja Seongdeok. Raja Gyeongdeok meninggal sebelum tugas selesai, sedangkan lonceng selesai pada tahun 771, pada masa pemerintahan Raja Hyegong, cucu Raja Seongdeok.

Lonceng seberat 18,9 ton ini berukuran tinggi 3,75 meter, lingkar 7 meter, dan diameter 2,27 meter pada titik terlebarnya. Dua puluh tujuh ton perunggu digunakan dalam pembuatan lonceng.

Lonceng tersebut lebih dikenal dengan nama “Emille-jong”, atau Emille Bell, yang berasal dari mitos bahwa seorang bayi dikorbankan untuk menghasilkan lonceng tersebut. Menurut mitos, “Emille” adalah suara tangisan bayi untuk ibunya.

Baca Juga: Remaja Korea Memilih Beli Saham Ketika Menerima Angpo

Namun demikian, mitos tersebut tidak pernah ada dalam catatan sejarah setidaknya sampai akhir era Joseon. Anehnya, mitos yang dimaksud justru muncul selama masa penjajahan Jepang. Terkait hal ini,  Lee Jae-hyun, peneliti di Museum Nasional Gyeongju, mengatakan bahwa mitos sengaja dibuat oleh Jepang untuk merendahkan nilai lonceng tersebut.

Lee menambahkan, terlepas dari asal muasal mitos yang diklaim, kisah fiksi memang membantu membangkitkan minat umum pada lonceng tersebut, mendorong orang untuk mempelajarinya lebih lanjut.

Teknik pengecoran Silla sekitar 1.250 tahun yang lalu masih belum sepenuhnya dipahami hingga saat ini. Sebagian besar insinyur saat ini setuju bahwa tanpa tanur sembur dan peralatan modern, lonceng sebesar itu akan sangat sulit diproduksi.

Salah satu hal teknis lonceng yang menarik perhatian adalah bagaimana lonceng yang besar itu hanya digantung pada batang logam horizontal yang berdiameter 8,5 sentimeter.

Pada tahun 1975, ketika bel dipindahkan dari situs sebelumnya bekas museum era kolonial Jepang di Dongbu-dong, Gyeongju ke museum Gyeongju, direncanakan untuk membuat batang baru. Namun hal itu tidak bisa dilakukan. Menurut teori teknik modern, batang harus berdiameter minimal 15 sentimeter untuk menahan beban lonceng dan menahan gaya saat lonceng dipukul. Peneliti masih belum bisa mengungkap materi batang asli yang menyangga berat lonceng hingga saat ini.  

Struktur lonceng yang unik juga menjadi perhatian khusus para peneliti. Keunikan struktur itulah yang membuat suara lonceng bisa menggema di seluruh Kerajaan Silla. Suara Lonceng Suci dapat didengar lebih dari 40 mil pada malam yang cerah.

Baca Juga: Korea Jadi Negara yang Tak Ramah Bagi Mereka yang Bernama Panjang

Sejak tahun 1992, lonceng tersebut tidak pernah dibunyikan, kecuali pada acara-acara khusus. Namun, pengunjung museum dapat mendengar rekaman suara lonceng setiap jam, serta pada tanda 20 menit dan 40 menit. Jika Anda mendengarkan dengan seksama, Anda dapat mendengar suara bergema untuk waktu yang lama setelah bel berbunyi.

Komposisi asimetris lonceng menghasilkan dua gelombang suara yang sedikit berbeda yang bertabrakan satu sama lain. “Pertama, Anda akan dapat mendengar lebih dari 50 suara berbeda sekaligus. Lalu perlahan, semua suara lainnya menghilang, dan hanya tersisa dua,” kata peneliti.

“Satu suara mencapai 64 hertz sementara yang lain mencapai 168 hertz. Ketika dua suara ini bertabrakan, mereka saling mempengaruhi, menghasilkan suara yang khas. Ini rahasia yang telah lama disimpan oleh bel.”

Ada ukiran bidadari di tubuh lonceng. Bidadari adalah adalah makhluk surgawi dalam budaya Buddha. Mereka memegang pembakar dupa dengan sikap hormat, seolah mempersembahkannya kepada Sang Buddha dan memenuhi udara dengan aroma yang damai. Penggambaran persembahan pada lonceng juga diyakini sebagai sarana berdoa untuk ketenangan jiwa Raja Seongdeok.

Baca Juga: Warisan Budaya dan Tren Kekinian Berpadu Harmonis di Seongsu

Satu sisi badan lonceng juga menampilkan prasasti sekitar 1.037 karakter Tiongkok kuno yang menceritakan pemerintahan Raja Seongdeok yang damai selama 40 tahun atas Kerajaan Silla. Prasasti itu menulis bahwa tidak ada perang atau konflik, atau kesulitan yang dihadapi rakyatnya selama masa pemerintahannya.

Prasasti tersebut selanjutnya mengatakan, “Sosok itu berdiri seperti gunung, dan suaranya seperti naga. … Mereka yang menyaksikan ini (bel) memuji keunikannya dan mereka yang mendengar suaranya diberkati.”

Sumber: The Korea Herald

Foto: The Korea Herald

(Ag/Ag)

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *