Warisan Budaya dan Tren Kekinian Berpadu Harmonis di Seongsu

Ada tren terbaru di Korea, orang cenderung untuk membagikan citra dirinya sebagai anak muda yang mandiri dan suka akan seni. Hal ini tampak jelas di Seongsu.

Itulah mengapa ada beberapa tempat yang dulu ditinggalkan, kini menjadi tempat nongkrong baru setelah direvitalisasi. Anak muda Korea mulai menghargai sebuah warisan budaya dan korea yang dipoles dengan tren kekinian.

Salah satu lokasi yang mempresentasikan tren baru ini adalah daerah di sekitar Stasiun Seongsu. Korea Herald mencoba mengulik daerah itu dalam rangkaian “Seoul Subway Stories,” sebuah reportase guna menjelajahi stasiun kereta bawah tanah dan area sekitarnya di seluruh kota.

Baca Juga: Selamat Ya, Loona Jadi Duta Budaya Korea Selatan

Status Seongsu-dong sebagai kiblat hipness di Seoul dapat dilihat melalui jutaan postingan Instagram yang memperkenalkan kafe-kafe kecil, restoran, dan bengkel kerajinan yang terletak di bangunan tua berbata merah. Dulu gedung tersebut berfungsi sebagai pabrik, fasilitas penyimpanan, dan toko sepatu buatan tangan.

Sebuah bangunan bernama Daelim Changgo, kini disulap menjadi café dari sebuah pabrik penggilingan padi. Bangunan tiga lantai dengan luas lantai kotor 1.252 meter persegi itu merupakan ruang budaya di mana pengunjung dapat menikmati pameran seni sambil menyeruput bir atau kopi. Pada tahun 2011, rumah mode Prancis Chanel mengadakan peragaan busana di sana.

Fans berkumpul untuk mengunjungi toko pop up yang mempromosikan rilisan terbaru boy band NCT 127 di Under Stand Avenue, di Seongsu, Seongdong-gu, Seoul. (Park Han-na. The Korea Herald)

Dari kota Terabaikan Kini Trendi

Dengan pesatnya pembangunan properti di daerah Seoul, membuat orang mulai melirik daerah penyangga seperti Seongsu-dong. Daeah mempertahankan banyak pabrik kecilnya yang dibangun dari batu bata merah, sekalipun berada tepat di seberang Sungai Han dari Apgujeong-dong dan Cheongdam-dong yang mana terdapat lingkungan mewah yang bernama Gangnam.

Sejak akhir 90-an, pabrik manufaktur pindah dari pusat kota menuju daerah penyangga. Maka permukiman pun tumbuh dan berkembang, walau tidak banyak kompleks apartemen.

Pada tahun 2014, Seongsu menghadapi titik balik baru. Ada banyak anak muda usia kerja atau baru menikah memilih bermukim di sini. Mereka umumnya seniman muda dan self-proprietors (organisasi bisnis yang paling sederhana), yang menyuntikkan kehidupan baru ke lingkungan tersebut.

Baca Juga: Jeju Air Buka Penerbangan Langsung ke Manado

Sekarang, Seongsu adalah salah satu lokasi kota yang paling dicari untuk berbagai merek, bisnis, dan bahkan band K-pop yang ingin mengadakan acara pop-up.

Belum lama ini puluhan penggemar K-pop berkumpul di Under Stand Avenue, sebuah ruang budaya yang terdiri dari 116 ruang yang terletak di pintu masuk Hutan Seoul. Di tempat itu berdiri sebuah toko pop-up untuk mempromosikan boy band terbaru NCT 127 saat merilis album.

“Itu adalah ruang yang sangat mendalam karena didekorasi dan dirancang semua tentang NCT 127 dan album baru mereka. Senang juga melihat Czennies lain (penggemar NCT) yang baru saya temui secara online sebelumnya,” kata seorang penggemar berusia 20-an setelah mengunjungi tempat itu.

Bangunan bersejarah lain yakni S Factory menjadi saksi bisu kolaborasi cokelat Snickers dengan raksasa K-pop BTS. Instalasi untuk zona foto semuanya dicat dengan warna ungu yang menjadi warna band tersebut. 

Yu Hong-sik, seorang ahli pembuat sepatu, mengerjakan sepatu pria di bengkelnya di Seongsu, Seongdong-gu, Seoul (The Korea Herald)

Warisan Pembuatan Sepatu

Interior Stasiun Seongsu di Seoul Subway Line No. 2 punya dekorasi unik. Di sana ditampilkan instalasi dan lukisan terkait sepatu yang menjelaskan warisan pembuatan sepatu yang ada di lingkungan sekitar.

Pabrik sepatu mulai mengelompok di bagian Seoul ini pada akhir 70-an dan 80-an. Sebelumnya, Geumho-dong memiliki konsentrasi pembuat sepatu yang besar, karena merupakan basis manufaktur Kumkang, salah satu merek sepatu lokal terbesar.

Dalam waktu singkat anak perusahaan material sepatu kulit dan pembuat sepatu dari Myeong-dong, Geumho-dong, Yeomcheon-gyo dan Cheonggy-cheon menyerbu ke daerah itu.

Baca Juga: Catat, Ini 5 Wisata Musim Dingin di Korea Selatan

“Dari 1996-2000, pembuat sepatu di Seongsu-dong meningkat menjadi sekitar 44 persen pembuat sepatu,” kata seorang pejabat di Kantor Distrik Seongdong.

Bisnis sepatu di Seongsu-dong sempat terpuruk ketika terdampak krisis keuangan Asia dan masuknya sepatu murah yang diimpor dari China. Pasar juga mengalami pukulan karena lebih banyak orang memilih sepatu kets yang ringan dan nyaman serta sepatu lari dari merek global seperti Nike dan Adidas.

Untuk bertahan di situasi tersebut, pembuat sepatu lokal meluncurkan “Kota Sepatu Seong-su” pada tahun 2011 sebagai upaya pemasaran bersama. Sayangnya usaha tersebut bisa dikatakan gagal. Karena hanya 250 bengkel dan toko sepatu yang bertahan, atau hanya setengahnya saja jika dibandingkan dengan saat masa kejayaannya.

Yu Hong-sik, seorang pengerajin sepatu berusia 74 tahun sudah menekuni profesi ini salama 55 tahun. Dia dikenal sebagai cordwainer untuk mantan Presiden Moon Jae-in.

“Orang-orang akan mengatakan bahwa saya benar-benar aneh karena melakukan pekerjaan ini untuk waktu yang lama. Namun saya bersenang-senang saat membuat sepatu karena saya membuat desain unik yang tidak bisa dilakukan orang lain,” kata Yu.

Sepasang sepatu termurah berharga 500.000 won ($353) dan yang paling mahal seharga 3,5 juta won.  Tidak bisa dibilang murah. Tetapi Yu bangga dengan apa yang ia kerjakan, sekalipun pelanggannya hampir setua dia.

“Orang bilang Korea sudah menjadi negara maju sekarang. Dari sudut pandang saya, negara maju adalah di mana orang tahu nilai keahlian. Kami belum sampai di sana,” ujarnya.

Baca Juga: Kuil Bongeunsa, Tampak Patung Budha Sedang Mengawasi Keramaian Kota

“Banyak anak muda datang ke Seongsu-dong, tetapi mereka cenderung mengunjungi tujuan yang ingin mereka tuju dan arus masuk tampaknya tidak mengarah pada pembelian sepatu buatan tangan,” Lee Sung-ja, seorang pejabat kantor distrik mengatakan.

Akankah Seongsu dapat mempertahankan warisan pembuatan sepatunya? Pengrajin semakin tua, tetapi generasi muda tampaknya tidak tertarik untuk mewarisi pekerjaan mereka.

“Banyak pembuat sepatu senior pergi. Tapi saya masih di sini melakukan pekerjaan yang saya sukai,” kata Yu.

Foto: Sebuah pameran seni sedang diadakan di Daelim Changgo, di Seongsu, Seongdong-gu, Seoul. (Park-Han-na. The Korea Herald)

(Ag/Ag)

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *