Melihat Cara Orang Korea Dulu Menghadapi Musim Dingin
Saat ini, sebagian dunia sedang mengalami musim dingin. Di daerah tropis saatnya masuk musim hujan. Di Korea yang punya 4 musim, dulu punya cara unik mengatasi musim dingin.
Sebelum ada listrik dan perkembangan teknologi, orang Korea menerapkan metode ondol, quilting, dan teknik lain untuk melindungi diri dari suhu beku.
Baca Juga: Cinta Belum Selesai: Lagu Berbahasa Indonesia – Korea, Ungkapan Hati Eddy Suprapto
Menurut penuturan Yim Hyun-su di The Korea Herald, musim dingin di Korea bisa sangat sulit. Terkadang, suhu turun hingga di bawah -10 derajat Celcius.
Seoul mengalami hari terdingin dalam 35 tahun pada Januari tahun lalu, dengan suhu terendah -18,6 derajat Celcius. Beberapa bagian kota seperti Nowon-gu dan Eunpyeong-gu mencatat suhu terendah masing-masing -21,7 dan -22,6 derajat Celsius.

Periode awal di Semenangjung Korea, musim dingin lebih rendah ketimbang saat ini. Suhu rata-rata tahunan selama tiga dekade terakhir antara 1991 dan 2020 naik 1,6 derajat, dibandingkan antara 1912 dan 1940.
Jadi wajar kita membayangkan, dengan suhu lebih dingin dan teknologi tidak semaju saat ini, bagaimana orang Korea dulu dapat menghadapi musim dingin? Di mana saat itu belum ada pemanas sentral dan pemanas listrik.
Baca Juga: Boneka Seks Menjadi Kontroversi Serius di Korea
“Ketika Korea adalah masyarakat pertanian tradisional di masa lalu, orang tidak bergerak sepanjang hari seperti yang kita lakukan sekarang. Selama musim dingin, orang-orang mengandalkan makanan dan pekerjaan yang mereka lakukan selama musim lainnya, dan menghabiskan banyak waktu di rumah dan di desa,” kata kurator Lee Gwan-ho dari National Folk Museum of Korea.
Lee Gwan-ho lahir di Kabupaten Hongseong, Provinsi Chungcheong Selatan, pada 1960-an. Ia masih ingat bagaimana hidup melalui banyak musim dingin yang panjang.
“Hanok (rumah tradisional Korea) dingin dan sangat rentan terhadap angin dingin yang datang dari luar. Apa yang dilakukan orang untuk mengatasi hawa dingin adalah dengan membakar kayu di agungi (tungku Korea) agar ondol (pemanas di bawah lantai) tetap hangat,” tuturnya.
Karena pohon sulit didapat, orang terkadang harus merebus air di gamasot, panci besar yang digunakan dalam masakan Korea.
“Melalui sejarah modernnya setelah Perang Korea ketika negara itu sedang berjuang secara ekonomi, sistem pemanas di banyak rumah tidak semodern sekarang. Itu lebih mirip sistem tradisional, terutama di pedesaan,” katanya.

Ondol
Ondol adalah sistem pemanas lantai tradisional Korea. Ondol mungkin bukan penemuan Korea, tetapi telah menjadi bagian integral dari gaya hidup Korea sejak Dinasti Joseon, yang dimulai pada 1392. Seperti yang dikatakan sejarawan awal abad ke-20, Son Jin-tae, “Orang Korea adalah mereka yang lahir, dibangkitkan dan mati di ondol.”
Menurut Prof Kim June-bong, Presiden International Society of Ondol, sistem pemanas lantai modern yang dipasang di hampir semua rumah Korea sekarang berakar pada ondol kuno ini. “Sistem pemanas bawah lantai berbasis air (saat ini) yang bekerja dengan air hangat, yang bersirkulasi melalui pipa dan terhubung ke boiler merupakan peningkatan dari mekanisme yang sama di mana seorang agungi digunakan untuk menghangatkan lantai di rumah-rumah tradisional Korea,” katanya.
“Sistem pemanas yang digunakan di gedung apartemen pada dasarnya adalah ondol,” lanjut Kim June-bong.
Sistem ondol beda dengan sistem negara Barat. Negara barat menggunakan radiator untuk menghangatkan udara, tetapi ondol menghangatkan lantai. Ini lebih menyenangkan, hemat, dan membuat kaki Anda tetap hangat.
Nubi
Nubi adalah merajut dengan pengaruh spiritual. Nubi adalah teknik quilting di Korea, juga digunakan untuk menghangatkan orang. Quilting tradisional melibatkan bahan menjahit seperti kapas menjadi pakaian dan kain.
Quilting adalah istilah yang diberikan untuk proses menggabungkan minimal tiga lapis kain bersama-sama, melalui jahitan secara manual dengan tangan menggunakan jarum dan benang
“Dengan tidak adanya ‘pakaian berinsulasi’ pada waktu itu, nubi digunakan untuk membantu melindungi dari cuaca dingin,” kata Kim Hae-ja, yang mendapatkan gelar Master Artisan of Quilt dari Administrasi Warisan Budaya.
Dia mencatat, nubi menjadi lebih umum setelah kapas diperkenalkan di negara itu berkat Mun Ik-jeom, seorang politisi Kerajaan Goryeo. Namun, teknik itu sudah ada sebelumnya.
“Menjahit adalah kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat kelas atas. Sementara rakyat jelata tidak punya waktu untuk merajut pakaian mereka. Mereka terlalu sibuk,” kata Kim Jae-ha.

Baca Juga: Bukti Arkeologi: Toilet Istana Dinasti Joseon Sudah Dilengkapi Teknologi Mirip Septic Tank
Catatan menunjukkan bahwa pakaian yang dilapisi kapas dibuat dan terkadang dibayarkan kepada pemerintah sebagai bentuk pajak.
Makna spiritual dari nubi tampak dari orang dulu yang percaya bahwa dengan mengenakan pakaian nubi maka akan membawa keberuntungan dan menghindari kesulitan. “Nubi, menurut saya, adalah produk dedikasi,” katanya.
Namun perlu dicatat bahwa nubi tidak umum. Yang mengenakan nubi hanya orang yang berasal dari kelas tinggi, termasuk birokrat dan pegawai negeri serta tantara selama Dinasti Joseon.
Foto: Lukisan yang menggambarkan Era Joseon karya Lee Hyung-rok’s berjudu “Seoljunghyangsi” (National Museum of Korea).jpg
Foto: The Korea Herald
(Ag/Ag)

Leave a Reply