Tren Mobil Listrik: LG Chem Lahirkan LG Energy Solutions, MIND ID Lahirkan Holding PT Indonesia Battery

Mayoritas pemegang saham LG Chem Ltd., perusahaan kimia terkemuka Korea Selatan, menyetujui proposal perusahaan untuk spin-off bisnis baterainya. Ada beberapa hal yang mendorong keputusan ini, salah satunya permintaan baterai mobil listrik yang meningkat tajam.

Spin-off  adalah tindakan LG Chem untuk memisahan sebagian perusahaan menjadi dua (atau lebih perusahaan baru), yakni yang sementara ini disebut LG Energy Solutions. Spin-off merupakan pemisahan tidak murni, karena dalam prosesnya perusahaan tidak menghapus atau menghilangkan eksistensi perusahaan induk secara hukum. Perusahaan induk, dalam hal ini adalah LG Chem, yang melakukan spin off tetap eksis dalam menjalankan kegiatan usahanya.

Kegiatan perusahaan ini didorong oleh Saham LG Chem yang anjlok sampai 6,14 persen menjadi 611.000 won. Ia tidak turun sendirian, juga ada Samsung Electronics, SK Hynix, Samsung Biologics, Celltrion, dan Naver. Hal ini buntut dari catatan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) pada 30 Oktober 2020 ditutup turun 59,52 poin atau 2,56 persen lebih rendah ke posisi 2.267,15. terendah sejak 31 Juli.  

Oleh karena itu, LG Energy Solutions yang akan mulai berkibar pada 1 Desember 2020 itu, juga dimaksudkan untuk mengamankan modal besar investasi lebih dari 3 triliun won (US $ 2,6 miliar) untuk fasilitas perushaan yang digelontorkan tiap tahun.

Dilansir dari Yonhap pada 30 Oktober 2020, meskipun saham terus merosot, tetapi kinerja divisi baterai di LG Chem sampai kuartal ketiga 2020 menyumbang 42 persen dari total pendapatan perusahaan. Ke depan, kiprah divisi ini akan terus menjanjikan karena sampai saat ini masih ada backlog pesanan di perusahaan untuk baterai EV (kendaraan listrik atau electric vehicle) bernilai lebih dari 150 triliun won.

Pada bulan September, Chief Financial Officer LG Chem Cha Dong-seok menyarankan bahwa entitas baru kemungkinan akan terdaftar di pasar saham pada akhir 2021 atau awal 2022.

LG Chem mulai membangun pabrik perakitan sel baterainya di wilayah Lordstown di timur laut Ohio pada paruh pertama tahun ini dalam usaha patungan dengan raksasa otomotif AS General Motors. Pabrik di Ohio akan menjadi fasilitas pembuatan baterai EV kedua LG Chem di Amerika Serikat setelah pabriknya di Michigan yang dibangun pada tahun 2012. LG Chem juga memiliki empat pabrik baterai, masing-masing satu di Korea Selatan dan Polandia, dan dua di Tiongkok.

LG Chem mengatakan pihaknya berada di jalur yang tepat untuk meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 100 gigawatt jam pada akhir tahun ini, yang cukup untuk memasok baterai untuk sekitar 1,7 juta mobil listrik.

LG Chem adalah pemasok utama baterai untuk kendaraan listrik, termasuk milik GM, Ford, Renault, Volvo, Audi, Volkswagen dan Daimler, serta produsen mobil terbesar Korea Selatan, Hyundai Motor Co., dan afiliasinya yang lebih kecil, Kia Motors Corp.

Baca Juga: Melalui Proyek Mobil Listrik, Indonesia dan Korea Menyongsong Masa Depan

Baca Juga; Menakar Seberapa Besar Prospek Mobil Listrik di Indonesia

LG Energy Solutions Siap Masuk Indonesia

Pasar baterai EV sangat menjanjikan. Itulah mengapa LG Chem pada akhirnya melakukan spin-off untuk melahirkan LG Energy Solutions. Di tengah isu lingkungan, banyak produsen mobil di seluruh dunia berlomba untuk menggunakan listrik sebagai sumber energi.

Indonesia tidak mau ketinggalan. Menimbang tren saat ini dengan potensi yang ada, negara kita melepaskan mimpi melahirkan mobil nasional yang berbahan bakar fosil. Juga mengesampingkan pembuatan kendaraan listrik. Yang menjadi fokus sekarang adalah menjadi produsen baterai kendaraan listrik terbesar. Hal ini ditopang dengan tambang nikel yang kita miliki.

Asian Today menuliskan bahwa Pulau Sulawesi merupakan episentrum nikel dunia, yang merupakan sumber utama pembuatan baterai. Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada Juli 2020, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel sebesar 11.887 juta ton (tereka 5.094 juta ton, terunjuk 5.094 juta ton, terukur 2.626 ton, hipotetik 228 juta ton) dan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton (terbukti 3.360 juta ton dan terikira 986 juta ton). Sedangkan untuk total sumber daya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam.

“Area Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara punya potensi yang terbesar di Indonesia sampai dengan saat ini,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono, dalam webinar Masa Depan Hilirisasi Nikel Indonesia, dikutip Jumat 16 Oktober 2020.

Indonesia sendiri telah menempatkan diri sebagai produsen bijih nikel terbesar di dunia pada tahun 2019. Dari 2,67 juta ton produksi nikel di seluruh dunia, Indonesia telah memproduksi 800 ribu ton, jauh mengungguli Filipina (420 ribu ton Ni), Rusia (270 ton Ni), dan Kaledonia Baru (220 ribun ton Ni).

Oleh karena itu, Kementerian BUMN sebagai rilisnya pada 14 Oktober 2020 mengeluarkan kebijakan untuk melakukan inovasi model bisnis dalam industri ini dan meningkatkan nilai rantai pasokan nikel yang berlimpah ini. Tujuannya, yaitu tak lain untuk memanfaatkan keuntungan sekaligus membangun industri baterai lithium di dalam negeri.

Potensi nikel di dalam negeri, terutama yang dikelola BUMN akan semakin meningkat setelah selesainya transaksi pembelian 20% saham divestasi PT Vale Indonesia Tbk (INCO) oleh Holding BUMN Pertambangan Mining Industri Indonesia (MIND ID) atau Inalum.

CNBC Indonesia mengatakan bahwa MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) bakal membentuk Holding PT Indonesia Battery. Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak menyebut pembangunan pabrik baterai akan dipimpin oleh Inalum melalui ANTM, bersama dengan PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero). Saat ini pihaknya tengah menyusun pembentukan perusahaan Holding PT Indonesia Battery tersebut.

“Di hulu ada Antam, yang intermediate ada Pertamina, hilir ada PLN. Sekarang lagi diproses. Itu nanti ada Indonesia Battery, itu holding company yang terlibat dalam pembuatan baterai dari hulu ke hilir,” jelasnya.

Tak hanya pemain domestik, dua produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia telah mengambil ancang-ancang untuk masuk Indonesia. Mereka disebutkan akan merogoh kocek US$ 20 miliar atau setara Rp 296 triliun (asumsi kurs Rp 14.800 per US$) untuk hilirisasi nikel. Mereka adalah Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) dari Cina dan LG Chem Ltd asal Korea.  

Investasi besar-besaran di sektor sumber energi masa depan ini diikuti dengan tren peningkatan penjualan mobil listrik secara global. Kata Data mencatat pada 2018 ada 5,1 juta unit mobil listrik terjual di seluruh dunia. Angka ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 3 juta unit.

Menurut International Energy Agency (IEA), negara pengguna terbesar mobil listrik adalah Tiongkok dengan 2,24 juta unit. Amerika Serikat (AS) menjadi negara terbesar kedua dalam penggunaan mobil listrik dengan 1,13 juta unit.

Di Eropa, sepanjang tahun 2018 penjualan mobil listrik mencapai 1,35 juta unit. Norwegia menjadi negara Eropa dengan penjualan mobil listrik terbanyak, yakni 296,2 ribu unit.

Daftar 8 negara pengguna mobil listrik terbanyak di dunia bisa dilihat di grafik berikut ini.

(Ag/Ag)

Keterangan Foto Headline:

LG Chem to supply EV batteries to Volvo. This photo, provided by LG Chem Ltd., shows the company’s researchers checking an electric vehicle (EV) battery. On May 15, 2019, the country’s top chemicals company said that it has signed a multi-year contract to supply lithium-ion batteries for Volvo’s next generation EV projects. (Yonhap)

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *